Tampilkan postingan dengan label sulawesi selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sulawesi selatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

admin

Indahnya Pulau Cambang-Cambang Di Kabupaten Pangkep

 
Pulau Cambang-Cambang Di Kabupaten Pangkep
Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) memiliki sejumlah Pulau yang indah dan menjadi tempat wisata kepada wisatawan lokal. Hanya saja pulau- pulau di Pangkep tersebut belum diketahui oleh wisatawan asing.
Salah satu pulau yang indah di Pangkep adalah Cambang- Cambang. Pulau yang berjarak sekitar 15 kilometer dari dermaga Maccini baji, Labakkang, itu sudah tidak asing lagi bagi warga setempat.
Untuk menempuh lokasi wisata yang terletak di Kecamatan Tupabiring Utara ini hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit saja dengan menggunakan perahu Jolloro berkapasitas 15 orang milik warga.
Bagi wisatawan yang berlibur ke pulau tersebut, hanya mengeluarkan uang untuk biaya transport sebesar Rp170 ribu saja. Biaya tersebut sudah diantar dan dijemput.

Beberapa tahun lalu, pulau seluas 50 meter persegi ini tidak dihuni. Namun sejak dua tahun terakhir pemerintah setempat menyulap kawasan tersebut menjadi salah satu objek wisata bahari.
Pulau tersebut dikenal karena keindahannya. Wisatawan lokal mulai berlibur ke lokasi tersebut meski sementara tahap pembangunan.

Para pelancong, pasti akan tertarik untuk bermain di bibir pantai dengan pasir putih yang bersih. Ombaknya yang tidak kencang, membuat wisatawan tidak khawatir akan terseret ke dasar laut.
Beberapa wahana yang tersedia, seperti waterboom yang dibuat langsung terintegrasi dengan laut. Meski begitu, wisatawan tidak perlu khawatir.
Selain itu, ada wahana lain yang lebih menarik seperti banana boot yang bisa dinikmati bareng keluarga, sembari menikmati keindahan pulau-pulau yang ada di sekitar pulau Cambang-Cambang ini.
 
Satu lokasi yang tidak kalah menariknya di objek wisata tersebut. Sebuah resort yang menyerupai perahu phinisi dan terletak di sisi timur.
Sehingga para pelancong bisa menikmati indahnya warna matahari saar terbenam atau sunset. Di wahana tersebut, wisatawan seolah-olah sementara berlayar di atas perahu phinisi.
Read More
admin

Destinasi Wisata Pantai Kering Di watampone

 
Pantai Kering Di bone
Destinasi Wisata Pantai Kering Di watampone - Pernah dengar sebutan Pantai Kering di Bone. Ya, itulah sebutan bagi jajaran cafe yang berlokasi di jalan Veteran, kota Watanpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Cafe-cafe di Pantai Kering menyerupai cafe-cafe di Pantai Karebosi Makassar atau Kendari Beach Kendari. Jajanannya pun sama: minuman jus, kopi, kue, roti, gorengan, dan lainnya. Cuma bedanya, tidak ada pantainya. Makanya dinamakan Pantai Kering.
Pantai Kering sangat ramai dikunjungi pada malam hari. Banyak pelanggan terutama dari kalangan anak muda yang memilihnya sebagai tempat nongkrong. Kata Andi Khairuddin, warga Watanpone, “Kalau malam banyak orang. Jalanan di situ sudah tidak kelihatan.”
Tak ada desiran ombak dan pasir pantai di lokasi ini. Gerobak para penjual yang berjejer secara rapi dan alunan musik terdengar dari gerobak para penjual. Hal itu, menjadi pemandangan tersendiri di Pantai Kering. Pengunjung pun menikmati suguhan makanan dan minuman. Demikian halnya, pengunjung yang asyik berdiskusi. Semuanya melebur dalam keramaian Pantai Kering. Di Pantai kering, para pengunjung dapat memilih sejumlah menu makanan dan minuman yang dijajakan para penjual di lokasi ini, seperti martabak, terang bulan, nasi kuning, nasi goreng, sate, bahkan minuman tradisional seperti sarabba pun ada di tempat ini. Syam, salah seorang warga Watampone mengaku, senang berkunjung ke Pantai Kering. Dia kerap bersama rekan-rekannya berkunjung ke lokasi ini. "Selain sebagai pusat jajanan makanan dan minuman di Watampone, Pantai Kering ini sangat asyik jika menjadi tempat berkumpul,"katanya. Bahkan, kata Syam, ia kerap mengajak rekan-rekannya ke Pantai Kering untuk menikmati malam sembari berdiskusi. Dia mengaku, keramaian di Pantai Kering itu, disaat Sabtu malam atau akhir pekan. Saat akhir pekan, kata Syam, pengunjung sangat membludak untuk datang ke lokasi ini. Pasalnya, di tempat inilah salah satunya pusat jajanan makanan dan minuman di Watampone yang ramai dikunjungi. Kemiripan suasana di Pantai Laguna,seperti deretan kursi dan gerobaknya. sehingga masyarakat Watampone pun menyebutnya dengan Pantai Kering atau biasa disingkat dengan Panker. Pengunjung pun mulai ramai berdatangan pada sore hari dengan menikmati suasana Kota Watampone senja hari dengan suguhan aneka menu makanan dan minuman. Aktivitas di Panker ini berlangsung hingga dini hari. Tak lengkaplah rasanya, jika berkunjung ke Watampone tak menyambangi Pantai Kering ini
Read More

Minggu, 18 Desember 2016

admin

Sejarah singkat Masuknya Islam di Kerajaan bugis (Bone)


Kerajaan Bone dan Gowa sejak dulu dikenal sering berseberangan dalam mewujudkan supremasi kekuasaan di wilayah Sulawesi Selatan. Alasan politis tentunya menjadi pertimbagan yang utama.  Sifat berseberangan inilah yang juga menjadi salah satu alasan Kerajaan Bone pada awalnya menolak ajakan dari raja Gowa untuk memeluk agama Islam. Pada saat itu Islam sudah jadi agama resmi yang dianut di kerajaan Gowa.

Raja Bone menganggap bahwa ajakan dari raja Gowa ini hanyalah salah satu siasat untuk melebarkan pengaruh dan kekuasaan dari kerajaan Gowa. Sebenarnya bukan hanya kerajaan Bone saja yang berpendapat demikian, karena pada umumnya kerajaan-kerajaan besar  yang  ada di Sulawesi Selatan juga berfikiran sama.

Setelah kerajaan Sidenreng, kerajaan Soppeng dan kerajaan Wajo menerima agama Islam, secara diam-diam raja Bone X We Tenrituppu diam-diam berangkat ke Sidenreng untuk menemui adattuang sidenreng La Patiroi yang telah memeluk Islam. Namun ternyata takdir berkata lain, sesaat setelah memeluk Islam sang raja kemudian menghembuskan nafas terakhir setelah menderita sakit. Untuk itu beliau mendapat gelar anumerta “matinroe ri Sidenreng”

Tahun 1611 raja Bone X digantikan oleh La Tenriruwa sebagai raja Bone XI. Pergantian raja ini sampai ke telinga raja Gowa, Sultan Alauddin. Sang raja Gowa bersama pasukannya kemudian bergerak menuju Bone untuk bertemu dengan raja yang baru. Maksud utama dari kedatangan Sultan Alauddin adalah untuk mengajak sang raja baru memeluk agama Islam. Secara pribadi ajakan ini sebenarnya diterima raja Bone yang baru, sayangnya para Ade’ Pitu masih menentang karena kuatir akan rencana kerajaan Gowa untuk menjajah kerajaan Bone.

Selain itu mereka juga masih segan meninggalkan kebiasaan lama seperti makan babi, minum tuak, sabung ayam, beristri banyak dan lain-lain yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Namun itu hanya soal waktu karena akhirnya Islam dapat diterima oleh kerajaan Bone. Ajaran Islam bahkan memberi warna yang baru dalam pranata sosial orang Bone. Mereka bisa menerima Islam dengan baik karena menurut mereka ajaran Islam tidak mengubah nilai-nail, kaidah kemasyarakatan dan budaya yang telah ada sebelumnya.
Read More
admin

Sejarah singkat Suku Bugis (BONE)

suku bugis


Suku Bugis adalah salah satu suku yang mendiami wilayah Sulawesi dan kabupaten Bone sering dianggap sebagai pusat dari peradaban Suku Bugis. artikel ini adalah artikel berisi tentang budaya dan tata cara perkawinan menurut adat Bone.

Kabupaten Bone terletak sekitar 174 km sebelah timur kota Makassar dengan luas wilayah 4.559 km2. Di sebelah utara kabupaten ini berbatasan dengan kabupaten Wajo, sebelah selatan dengan Sinjai, timur denga teluk Bone dan barat dengan kabupaten Maros.

Menurut sejarah yang ada, kabupaten Bone  berawal dari masa kejayaan Kerajaan Bone yang dulu sangat terkenal di nusantara. Bersama kerajaan dengan Gowa-Tallo, kerajaan Bone turut mewarnai sejarah panjang nusantara kala itu. Selain Bone, ada lagi kerajaan  yang lain seperti kerajaan Soppeng, kerajaan Wajo dan juga Siang yang juga termasuk dalam etnis bugis.

Kejayaan kerajaan Bone mencapai puncaknya pada abad ke 17 pada masa pemerintahan Raja Bone XV La Tenri Tatta Daeng Serang Petta Malampe’e Gemme’na. Di dalam naskah lontara disebutkan sebagai berikut: riwettu puatta Malampe’e Gemme’na paoppang palengngengi tana Bone, Bone wettuero kutosaba keteng, tepu seppulo lima yang berarti: pada saat Bone dipimpin oleh La Tenri Tatta Daeng Serang Petta Malampe’e Gemme’na, maka Bone pada saat itu seumpama bulan, sempurna bentuknya.

Pada tahun 1905 Kerajaan Bone jatuh ke tangan Belanda dan terbentuk pemerintahan sendiri (Zelf bestur) di bawah pengawasan Belanda. Selanjutnya pada masa pemerintahan Raja Bone XXXIII La Pabbenteng Petta Lawa Sultan Muh. Idris Matinroe Ri Matuju sistem kerajaan diubah mengikuti sistem pemerintahan Republik Indonesia.
Read More

Sabtu, 17 Desember 2016

admin

Mengenal Lebih Dalam Pong tiku Pahlawan Nasional Dari Toraja



Mengenal Lebih Dalam Pong tiku Pahlawan Nasional Dari Toraja - Pong Tiku (atau Pontiku dan Pongtiku; 1846 – 10 Juli 1907), dikenal dengan nama Ne' Baso, adalah pemimpin dan gerilyawan Toraja yang beroperasi di Sulawesi bagian selatan, sekarang bagian dari Indonesia.
Tiku adalah putra penguasa Pangala'. Setelah Tiku menduduki kerajaan Baruppu', ia menjadi raja, lalu menguasai Pangala' setelah ayahnya meninggal dunia. Lewat perdagangan kopi dan persekutuan dengan Suku Bugis di dataran rendah, Tiku mendapatkan kekayaan, tanah, dan kekuasaan yang besar. Semasa Perang Kopi (1889–1890), kota Tondon diserang oleh penguasa lain, namun direbut kembali pada hari yang sama. Ketika pasukan Belanda menyerbu Sulawesi pada awal 1900-an, Tiku dan pasukannya melancarkan serangan dari benteng. Ia ditangkap pada bulan Oktober 1906. Bulan Januari 1907, ia kabur dan menjadi buronan sampai Juni tahun itu. Ia dieksekusi mati beberapa hari setelah tertangkap.
Tiku merupakan pemimpin pemberontakan terlama di Sulawesi. Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz menganggap Tiku sebagai ancaman bagi kestabilan pemerintahan Belanda di kawasan itu. Van Heutsz mengutus Gubernur Sulawesi untuk memimpin penangkapannya. Sejak kematiannya, Tiku menjadi simbol pemberontakan Toraja. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2002.
oraja Selatan dan Toraja Barat menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito sedang Toraja Utara mitra dagangnya adalah kerajaan Bone dan Luwu. Pimpinan orang Bugis dan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito adalah Petta Manyoro Lolo (Panglima Angkatan Perang Kerajaan Sidenreng) yang kemudian diketahui bernama Petta Serang, anak dari Raja Sidenreng, sedang pimpinan orang Bugis dari Kerajaan Bone dan Luwu adalah Petta Punggawa (Panglima tertinggi Angkatan Perang Bone, yang juga adalah Putra mahkota dengan nama Andi Baso' Abdul Hamid)
Melalui hubungan dagang antara orang Bugis dan orang Toraja tersebut pemimpin-pemimpin Toraja dapat mengetahui bahwa akan pecah perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak mau lagi mengakui Perjanjian Bungaya yang mengatur hubungan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang sangat merugikan.
Untuk mengantisipasi perang yang akan pecah dalam waktu tidak lama penguasa-penguasa Toraja mengadakan musyawarah di Tongkonan Buntu Pune Kesu' (Kediaman Pongmaramba') dan mencapai kesepakatan antara lain :
Menggalang persatuan antar penguasa dengan menghilangkan semua benih-benih perpecahan dan mengangkat Pongtiku Panglima Perang sedang Pongmaramba' dan penguasa-penguasa adat lainnya sebagai Panglima Pasukan Penghancur. Kesepakatan mereka didasari motto : "Misa' Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate".
Selesai musyawarah, Pongtiku kembali ke daerahnya untuk mempersiapkan dan menyiagakan benteng-bentengnya sebanyak 9 (Sembilan) buah menghadapi perang.Pada bulan Maret 1906, pasukan Angkatan Perang Belanda di bawah Pimpinan Kapten Killian dengan tujuan melucuti  dan mengumpulkan senjata api dari semua penguasa Toraja. Komandan pasukan Belanda memerintahkan Pongtiku datang menghadap dan menyerahkan semua senjata yang dimilikinya. Pongtiku menolak, malah ia menyiagakan semua benteng-bentengnya menghadapi perang.
Perang perlawanan Pongtiku dalam daerahnya sendiri berlangsung selama kira-kira 6 bulan (Mei s/d Oktober 1906) dengan 6 kali pertempuran dan 1 kali pengepungan selama kira-kira 4 bulan (Juli s/d Oktober 1906). Pertempuran tanggal 1 Juni 1906 untuk mempetahankan Benteng Buntu Asu dari serangan Angkatan Perang Belanda di bawah Komando Kapten De Last yang dilakukan dalam 3 gelombang semuanya kandas di muka Benteng dengan menelan banyak korban, Angkatan Perang Belanda dipukul mundur dan dihalau kembali ke Rantepao.
Pongtiku adalah penantang utama datangnya penjajah Belanda di Tana Toraja dan Toraja Utara dan dengan gigih dan gagah perkasa dengan segala kemampuan yang ada padanya mengobarkan perang lebih setahun lamanya, tepatnya dari bulan Mei 1906 s/d Juli 1907.  Ia bertahan dan menyerang musuhnya dari benteng-benteng yang jumlahnya 9 buah yang telah dipersipakan sejak dini. Perang Pongtiku melawan Belanda bukanlah tindakan spontanitas akan tetapi adalah perang yang direncanakan dan dipersiapkan dengan matang yangn merupakan bagian integral dari perang perlawanan Raja-Raja di Sulawesi Selatan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda disebut sebagai Perang Bone III. Demikian hebatnya pertahanan dan perlawanan Angkatan Perang Pongtiku terhadap gempuran Angkatan Perang Belanda, mengharuskan Letjen Swart yang dijuluki oleh Belanda sebagai Pasifikator Van Aceh (Pengaman Aceh) mengambil Komando pertempuran melawan Angkatan Perang Pongtiku yang bertahan tak terkalahkan dalam Benteng Batu di Baruppu'.
Belanda dengan menggunakan taktik seperti taktik yang digunakan terhadap Pangeran Diponegoro, Pongtiku menerima Case Fire, untuk mengadakan perundingan perdamaian dengan Belanda. Kesempatan ini digunakan oleh Belanda untuk membatasi gerak Pongtiku, tetapi Pongtiku menggunakan pula kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan Upacara Pemakaman kedua orang tuanya yang wafat dalam Benteng menurut adat Toraja. Sehari sebelum selesai upacara pemakaman kedua orang tuanya, Pongtiku dengan sejumlah pasukan kembali ke medan juang bergabung dengan teman-teman seperjuangannya di Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua' Saruran dan Benteng Alla' dalam Wilayah Enrekang.
Setelah Benteng Ambeso dan Benteng Alla' jatuh ke tangan Belanda pada Bulan Januari 1907 Pongtiku tidak tertawan, ia berhasil lolos bersama pasukannya kembali ke wilayah kekuasaannya. Dengan petunjuk mata-mata Belanda ia tertangkap lalu di bawa ke Rantepao. Tanggal 10 Juli 1907, ia dieksekusi dan gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di pinggir Sungai Sa'dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki' Rantepao.
Meneliti sejarah perjuangan bangsa melawan Pemerintah Hindia Belanda dapatlah diketahui bahwa Pongtiku adalah penantang terakhir yang mengobarkan perang klasik terakhir tahun 1906-1907 di Wilayah Sulawesi Selatan sesuai sumpah yang diucapkannya "Iatu Tolino Pissanri Didadian sia Pissanri Mate Iamoto Randuk Domai Tampak Beluakku Sae Rokko Pala' Lette'ku Nokana' Lanaparenta Tumata Mabusa" (Manusia hanya sekali dilahirkan dan mati, dari ujung rambut sampai telapak kakiku saya tidak akan rela diperintah oleh Belanda)
Pengorbanan tidak sia-sia karena setahun setelah Pongtiku gugur tahun 1907. Pada tahun 1908 bangkitlah perlawanan modern yang dimulai dengan gerakan Budi Utomo atau Kebangkitan Nasional yang disusul dengan perlawanan-perlawanan dari pahlawan dan pejuang-pejuang bangsa yang mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Patung pongtiku yang terdapat diratepao, yang menggambarkan penghargan masyarakat toraja kepada pongtiku



Read More
admin

Objek Wisata Pasir Berbisik di Rantebua, Toraja Utara


Gumuk pasir di Rantebua


Objek Wisata Pasir Berbisik di Rantebua - Gumuk pasir adalah gundukan bukit atau igir dari pasir yang terhembus angin. Gumuk pasir dapat dijumpai pada daerah yang memiliki pasir sebagai material utama, kecepatan angin tinggi untuk mengikis dan mengangkut butir-butir berukuran pasir, dan permukaan tanah untuk tempat pengendapan pasir, biasanya terbentuk di daerah arid (kering).
Bentuk gumuk pasir bermacam-macam tergantung pada faktor-faktor jumlah dan ukuran butir pasir, kekuatan dan arah angin, dan keadaan vegetasi. Bentuk gumuk pasir pokok yang perlu dikenal adalah bentuk melintang (transverse), sabit (barchan), parabola (parabolic), dan memanjang (longitudinal dune).
Gumuk Pasir ternyata ada juga di Toraja. Bikin Herankan? Kok bisa. Apa yang Tidak jika Tuhan Perkenankan. Tuhan sayang Toraja, makanya selalu Tuhan Kasih Pesona Alam yang Luar biasa Indahnya. Biar Toraja Selalu jadi Berkat untuk Semua
Gumuk Pasir ini, Letaknya di sebuah daerah terpencil Sumalu di Kecamatan Buntao, Rantebua, Toraja Utara. ada sekitar 45 Menit dari Kota Rantepao jika di tempuh menggunakan Kendaraan roda 2
Loaksi destinasi wisata  ini sejak satu minggu belakangan kini mulai ramai dikunjungi oleh pemburu keindahan panorama yang unik. Saat berada ditempat ini serasa berada di padang pasir yang berbukit dengan sapaan dan suara bisikan angin dari setiap celah lembah berpasir ini, sungguh terasa mengagumkan; ada sensasi yang cukup sulit dilukiskan dengan kata-kata. Alunan suara angin dari setiap sudut lembah dan bukit seakan berbisik membuai pendengaran. 
Bukit pasir atau gumuk pasir (sand dune) merupakan sebuah bentukan alam karena proses angin yang disebut sebagai bentang alam Eolean (eolean morphology). Angin yang membawa pasir akan membentuk bermacam-macam bentuk dan tipe gumuk pasir. Bentang alam seperti ini sering dijumpai di daerah gurun pasir, tapi entah kenapa gumuk pasir ini ada di Rantebua. Anda penasaran? Silahkan kunjungi tempat ini. (herson).
Objek Wisata Pasir Berbisik di Rantebua, Toraja Utara, Pesona Alam Toraja Utara Sulawesi Selatan, Tempat Liburan Di Toraja
Read More