Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2017

admin

Sejarah Candi Borobudur Wisata Terkenal Di Indonesia



candi borobudur merupakan warisan budaya indonesia yang sudah terkenal sampai ke seluruh dunia bangunan ini merupakan candi budha terbesar didunia dan ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO.bentuknya yang megah dan detail arsitekturnya yang unik membuat semua orang ingin mengunjungi borobudur yang penasaran dengan ceritanya,borobudur mencuri perhatian dunia sejak HC cornelius menemukan lokasinya atas perintah Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814.pekerjaan menggali lokasi yang diduga monumen besar kemudian dilanjutkan oleh hotman salah satu pejabat pemerintah belanda yang saat itu para arkeolog berlomba lomba mencari tahu asalusul candi budha terbesar didunia ini

sejarah berdirinya candi borobudur diperkirakan dibangun pada tahun 750 masehi oleh kerajaan syailendra yang pada waktu itu menganut agama budha,pembangunan itu sangat misterius karena manusia pada abad ke 7 belum mengenal perhitungan arsitektur yang tinggi tetapi borobudur dibangun perhitungan arsitektur yang canggih ,hingga kini tidak satu pun yang dapat menjelaskan bagaimana cara pembangunan dan sejarah candi borobudur ini

Sudah banyak ilmuan dari seluruh penjuru dunia yang datang namun tidak satu pun yang berhasil mengungkapkan misteri pembangunan borobudur. Salah satu pertayaan yang membuat para peneliti penasaran adalah dari mana asal batu-batu besar yang ada di candi borobudur dan bagai mana menyusunnya dengan presisi dan arsitektur yang sangat rapih. Ada yang memperkirakan batu itu berasal dari gunung merapi namun bagaimana membawanya dari gunung merapi menuju lokasi candi mengingat lokasinya berada di atas bukit.

Candi borobudur memiliki 72 stupa yang berbentuk lonceng ajaib, Stupa terbesar terletak di puncak candi sementara yang lain mengelilingi stufa hingga kebawah. Ketika ilmuan menggambar denah candi borobudur, mereka menemukan pola-pola aneh yang mengarah pada fungsi borobudur sebagai jam matahari, jarum jamnya berupa bayangan stupa yang besar dan jatuh tepat di stupa lantai bawah  namun belum di ketahui secara pasti bagaimana pembagian waktu yang di lakukan dengan menggunakan candi borobudur ada yang mengatakan jam pada candi borobudurmenunjukan tanda kapan masa bercocok tanam atau masa panen.


relief candi borobudur dan kisah mahabarata

Didalam candi borobudur terdapat sebuah relief yang mengisahkan tentang satu karya sastra yang cukup terkenal yaitu MAHABARATA.maha barata ini sebenarnya bukan kisah nyata dan juga bukan kitab agama karena penulisnya bukan Nabi tapi maha barata ini karya sastra dalam kitab adi parwa itu maha barata kitab pertama nah ada kisah mengenai pandawa dan kurawa keduanya leluhurnya sama yaitu bangsa kuru tapi mempunyai sifat yang berbeda kurawa kususnya durya dana itu mempunyai sifat yang licik dia penngen kuasai ini warisan kerajaan oleh kelompoknya kurawa atau yang terwakili 100 orang dengan duryadana ini. 

Maka durya dana mengundang kunti ibunya pendawa maka dengan anaknya lima pendawa lima di undang untuk pergi ke suatu tempat untuk bermalam dan bermain di sana nahh ketika mereka bermalam maka rumahnya tuh di bakar untung kunti dan pandawa tidak terbakar hidup-hidup tapi bisa meloloskan diri dan menyelamatkan di hutan di dekatnya. 

Dalam perjalannya di tengah hutan maka pandawa sampai pada kerajaan yang namanya pancala rajannya drupada,di kerajaan itu sedang ada sayembara untuk memperebutkan banyak hal tapi di antaranya adalah memperebutkan drupadi itu adalah drupadi ini putri kerajaan pancala ini lalu pandawa ini menggunakan pakaian penyamaran pakaian brahmana mengikuti sayembara dan tentunya arjuna yang mewakili dia mempunyai kehebatan dalam hal memanah memenangkan sayembara ini. 

Sesampainya pandawa di rumah dia menceritakan kepada ibunya kunti kemenangan tersebut, "kami memenangkan sayembara kami dapat hadiah lalu ibunya dengan suara berwibawa seorang ibu begini nak apapun yang kamu dapatkan kamu harus adil itu hadiah harus di bagi lima tapi ibu, tetapi tidak alasan kamu harus mendengar orang tua di bagi rata, tapi bu , tidak tapi-tapian. lalu sepakat di bagi lima nah kunti ibunya baru tahu bahwa hadiahnya termasuk drupadi seorang wanita karena tidak mau menjilat lidahnya dan kata-katanya maka apa boleh buat drupadi harus menikahi 5 orang laki-laki
Read More

Jumat, 13 Januari 2017

admin

Tari Kecak Tarian Asal Bali Yang Dramatis Dan Memiliki Unsur Mistis


tari kecak merupakan Salah satu jenis tari tradisional dari bali yang sangat memukau para penonton. Keunikan dari gerakan serta kemistikan dalam pertunjukan membuat tarian ini sangat istimewa bagi kalangan wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang menyaksikannya saat menyambangi Pulau Bali. Tak heran jika tarian yang diciptakan oleh Wayan Limbak ini sangat terkenal hingga ke mancanegara.

tari kecak adalah salah satu jenis kesenian tradisional dari Bali yang diciptakan pada kisaran tahun 1930 oleh seorang penari sekaligus seniman dari Bali yakni Wayan Limbak. Sebagai seorang seniman tentu saja Wayan Limbak sangat akrab dengan para seniman lain, sebut saja Walter Spies yang merupakan seorang pelukis dari negara Jerman merupakan salah satu teman akrab Wayan Limbak. Kedua sahabat inilah yang menjadi pencetus tari kecak yang sangat terkenal hingga saat ini.

Tarian yang kerap dimainkan oleh laki-laki ini kini menjadi salah satu icon kebudayaan Bali yang cukup mendapat sanjungan oleh para wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Meskipun gerakan yang dilakukan oleh para penari tergolong sangat sederhana, namun pembawaan para penari yang berjumlah cukup banyak mulai dari puluhan hingga ribuan orang membuat gerakan yang dimainkan tergolong sangat unik dan menarik.

Pementasan dan pertunjukan tari tradisional dari bali ini dapat dengan mudah kita saksikan di beberapa wilayah Bali seperti Uluwatu, Garuda Wisnu Kencana, Ubud, dan Gianyar Bali.

Ekspresi para penari nan memukau membuat para penonton tercengang akan penampilan mereka. Di lain sisi musik pengiring hampir tidak ada, hanya suara dan lantunan kata-kata yang berbunyi “cak-cak-cak-cak” terdengar dalam mengiringi gerakan tarian.

Jika kita dapat menyaksikan tari kecak dari awal hingga akhir, maka kita akan memahami mengenai alur cerita yang disajikan dari gerakan-gerakan pementasan oleh para penari.

Antusias masyarakat Bali akan keberlangsungan dan kelestarian kesenian tradisional membuat banyak orang belajar dan tertarik untuk melakukan tarian yang diciptakan oleh Wayan Limbak ini. Tak heran jika hampir semua pemuda bali khususnya para laki-laki mampu melakukan gerakan tarian ini dengan cara duduk melingkar. Para penari mengenakan pakaian khas bercorak kotak-kotak hitam putih mirip dengan papan catur.

Dari tahun 1970 tari kecak terus mengalami peningkatan, bahkan pemerintah daerah setempat menjadikan tari ini sebagai icon budaya masyarakat Bali.


Alat Musik Pengiring

Hampir tidak ada alat musik pengiring tari kecak kecuali suara gemerincing serta suara dari para penari yang berbunyi “cak-cak-cak-cak”. Meskipun tidak ada alat musik khusus sebagaimana tarian lain namun justru disini letak keunikan tari tersebut.

Suara yang bersahut-sahutan dan kadang kala kompak membuat nada-nada unik yang sangat menarik utuk didengarkan seiring gerakan tarian yang dilakukan oleh para penari.

Suara gemerincing terdengar dari properti tari yang dikenakan oleh para penari khusunya tokoh utama dalam seni pertunjukan khas Bali tersebut.

Busana Tari Kecak

Dalam pertunjukannya penari menggunakan kostum sesuai dengan lakon yang diperankannya. Kostum ini hampir sama dengan Wayang Wong, namun dengan gaya khas Bali. Sedangkan para pengiring biasanya hanya menggunakan celana hitam dan kain bermotif kotak-kotak berwarna hitam putih. Selain itu beberapa aksesoris seperti bunga yang diselipkan di salah satu telinga mereka.

Pengiring Tari Kecak

Tari Kecak ini merupakan salah satu kesenian drama tari yang sangat unik. Berbeda dengan kesenian pada umumnya, dalam pertunjukan Tari Kecak tidak menggunakan alat musik apapun. Tari Kecak ini hanya diiringi oleh suara teriakan anggota yang mengelilingi penari dan suara kerincing yang diikatkan di kaki para penarinya. Untuk anggota pengiring suara tersebut biasanya terdiri dari 50 orang atau lebih. Dalam anggota pengiring tersebut juga terdiri dari anggota yang bertugas sebagai, pengatur nada, penembang solo, dan Dalang yang mengatur jalannya cerita.
Read More
admin

Tari Reog Ponorogo Tarian Unik Jawa Timur Yang Paling Terkenal


Pementasan seni Reog Ponorogo dimulai dengan beberapa tarian pembuka yaitu tarian yang pertama dibawakan oleh 6 – 8 pria yang berpakaian serba hitam, berkumis dan berwajah merah yang menggambarkan keberanian dan kegagahan tersebut. Para penari kemudian melakukan gerakan tari reog ponorogo seperti singa yang pemberani. Tarian dilanjutkan oleh 6 – 8 gadis yang menaiki kuda atau biasa disebut Jathilan. Tarian ini menggambarkan kelincahan prajurit berkuda yang sedang berlatih perang menggunakan kuda.
Selanjutnya adalah tarian yang dilakukan oleh anak kecil yang bertopeng, mereka akan melakukan berbagai atraksi yang membuat para penonton kagum. Adegan yang dibawakan ini cenderung lucu bertujuan untuk  menghibur penonton.
Sejarah Kesenian Reog

Sejarah kesenian reog berasal dari cerita rakyat. Ada lima versi cerita yang berkembang namun yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu. Diceritakan bahwa Ki Ageng Kutu yang merupakan seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabumi pada abad ke-15. Ia melakukan pemberontakan karena murka akan pemerintahan raja yang korup dan terpengaruh kuat dari istri raja majapahit yang berasal dari cina.  Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan bela diri. Namun sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan, maka ia membuat pertunjukan seni Reog yang merupakan sindiran kepada raja Kertabumi dan kerajaannya.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.

Lepas dari hal itu, Reog Ponorogo ini oleh masyarakat biasanya sering dipentaskan saat acara pernikahan, khitanan, hari-hari besar nasional, dan juga festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah setempat. Festival yang diadakan oleh pemerintah tersebut terdiri dari Festival Reog Mini Nasinonal, Festival Reog Nasional dan juga pertunjukan pada bulan purnama yang bertempat di alun-alun ponorogo. Sedangkan Festival Reog Nasional itu selalu diadakan saat akan memasuki bulan Maharam atau yang sering dalam tradisi Jawa itu biasa di sebut dengan bulan Suro. Pementasan reog ponorogo merupakan rangkaian dari acara Grebeg Suro atau juga dalam rangka ulang tahun kota Ponorogo.
Dalam rangka menyambut tahun baru islam atau yang sering dikenal dengan sebutan tanggal satu Suro, pemerintah kabupaten Ponorogo mengadakan event budaya terbesar di Ponorogo yaitu Grebeg Suro. Saat Grebeg Suro berlangsung, biasanya saat pementasan kesenian Reog Ponorogo itu selalu dibanjiri penonton baik dari semua penjuru Ponorogo, bahkan karena pagelaran kesenian ini bertaraf nasional, tak jarang wisatawan dari luar daerah Ponorogo bahkan dari luar negeri pun turut hadir untuk melihat acara pagelaran kesenian Reog Ponorogo ini. Hal inipun dimanfaatkan oleh pemerintah daerah Ponorogo sebagai salah satu senjata andalan untuk meningkatkan daya tarik wisata Ponorogo itu sendiri.

Read More

Minggu, 08 Januari 2017

admin

Asal Usul Tas Noken di Papua (Oleh-Oleh Khas Papua)



Noken merupakan warisan suku-suku yang termasuk ras Melanesia yang ada di Papua. Perempuan Papua memiliki tas tradisional bernama Noken. Noken terbuat dari kulit kayu lokal yang banyak tumbuh di Papua. Kayu yang digunakan sebagai bahan baku juga berbeda-beda. Kulit kayu ditumbuk, kemudian dilakukan proses pengawetan yaitu dengan merendam ke dalam air agar serat kayu bertambah kuat. Lalu, kulit kayu dipilin menjadi benang seperti tali kecil (string). Selanjutnya, tali kecil tersebut dianyam menjadi Noken. Saat menganyam dibentuk suatu “cincin” lalu diikat menjadi simpul mati.
Di daerah Paniai, Noken diberi hiasan agar semakin menarik. Hiasan ini terbuat dari kulit pohon anggrek baik yang berwarna kuning emas atau pun yang berwarna hitam. Noken terbuat dari bahan alami yang ramah lingkungan. Tak hanya terbuat dari kulit kayu, Noken juga dibuat dari benang katun, bahkan dari benang wol.
Noken berbahan benang nilon dan serat kulit kayu tersebut dijual dengan harga rata-rata Rp 100 ribu - Rp 300 ribu tergantung ukuran. Warna-warni nan ceria dari tas ini menjadi kekhasan tersendiri.

Hal lain yang menarik dari tas tradisional ini adalah bahwa hanya perempuan Papua yang boleh membuat noken. Perempuan Papua yang belum bisa menjalin noken bahkan sering dianggap belum dewasa dan belum layak menikah. Noken juga sebagai simbol sumber kesuburan kandungan seorang perempuan.
Tas Serba Guna
Noken sebagian besar dimanfaatkan masyarakat di pedesaan atau pegunungan Papua untuk membawa hasil kebun, kayu api, atau ternak yang dipanen dari kebun untuk dijual di pasar atau sebaliknya. Pelajar dan mahasiswa juga banyak yang menggunakan Noken, berukuran kecil, untuk membawa buku dan alat tulis.

Kaum bapak memanfaatkan Noken untuk membawa buah pinang, sirih, maupun tembakau ketika hendak bersosialisasi dengan teman dan kerabatnya. Sedangkan kaum ibu memfungsikan Noken sebagai gendongan bayi atau baby carrier. Saat menggendong bayi, beban tidak berada di pundak. Biasanya tas ini digantung di kepala atau leher perempuan Papua untuk membawa hasil bumi, anak babi, bahkan menggendong bayi. Selain banyaknya bawaan yang bisa dikalungkan, beberapa perempuan bahkan menggantungkan lebih dari satu noken di lehernya. Biasanya noken ini disusun bertingkat di atas punggung supaya tidak saling tumpuk dan berat.

Ada suku tertentu yang menganggap Noken sakral dan dianggap sebagai lambang kesuburan. Bahkan, ada yang menambahkan Noken sebagai mas kimpoi. Warga suku Moor yang mendiami Pulau Moor, kurang lebih 1,5 jam perjalanan dengan perahu motor dari Nabire, beranggapan perempuan yang belum bisa menganyam atau membuat Noken dianggap belum dewasa untuk berumah tangga.
Noken di Papua New Guinea
Papua New Guinea terletak di sebelah timur Propinsi Papua. Suku-suku yang berada di Papua maupun penduduk asli Papua Nugini memiliki kesamaan ras, Melanesia, yang memiliki rambut keriting dan kulit gelap. Keduanya juga memiliki tas tradisional. Warga Papua Nugini menyebut Noken dengan nama Bilum. Yang membedakan hanya negara tempat tinggal mereka.

Bilum adalah tas string yang dibuat dengan tangan di Papua Nugini. Tas dapat dibuat dengan proses yang dikenal sebagai perulangan string atau dengan merajut. Secara tradisional, string yang digunakan adalah buatan tangan, biasanya dari bahan tanaman. Sekarang, banyak orang yang mampu untuk membuat bilum dengan membeli bahan benang dan string di toko.

Bilums digunakan untuk membawa berbagai barang, dari barang belanja di bilums besar untuk barang-barang pribadi di dalam tas berukuran varietas. Ibu sering membawa bayi mereka di bilums. Sementara metode tradisional pembuatan bilum menggunakan tanaman alang-alang tenun masih banyak tersebar di Papua Nugini, banyak penduduk desa yang sekarang menemukan lebih mudah untuk menggunakan wol berbasis benang untuk membuat tas mereka. Hal ini memungkinkan keragaman yang lebih besar dari skema warna yang akan dimasukkan ke dalam pembuatan bilums, dan sebagai hasilnya mereka lebih sangat dicari, karena pola yang sangat terlihat dan berbeda dan kombinasi warna.

Noken Menjadi Warisan Dunia
Akhir Maret 2011, Jero Wacik, Menteri Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, menandatangani tiga berkas nominasi Warisan Budaya. Berkas tersebut akan diserahkan ke UNESCO agar mendapat pengesahan dari badan PBB sebagai Warisan Budaya kita. Ketiga budaya Indonesia yang akan didaftarkan adalah:

[*]Tas tradisional Noken asal dari Papua. Noken didaftarkan sebagai Urgent Safeguarding of Intangible Cultural Heritage (Warisan Budaya Bukan Benda yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak).
[*]Tari Tradisonal Bali. Sembilan jenis tarian dari sembilan kabupaten di Bali didaftarkan sebagai Representative List of Intangible Cultural Heritage (Daftar Representatif Warisan Budaya Bukan Benda).
[*]Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Taman seluas 145 hektar ini didaftarkan untuk dinominasikan dalam kategori Best Practices of Intangible Cultural Heritage (Warisan Budaya Bukan Benda Guna pelindungan, Pengembangan, dan Pendidikan).
 
Read More

Minggu, 18 Desember 2016

admin

Sejarah singkat Masuknya Islam di Kerajaan bugis (Bone)


Kerajaan Bone dan Gowa sejak dulu dikenal sering berseberangan dalam mewujudkan supremasi kekuasaan di wilayah Sulawesi Selatan. Alasan politis tentunya menjadi pertimbagan yang utama.  Sifat berseberangan inilah yang juga menjadi salah satu alasan Kerajaan Bone pada awalnya menolak ajakan dari raja Gowa untuk memeluk agama Islam. Pada saat itu Islam sudah jadi agama resmi yang dianut di kerajaan Gowa.

Raja Bone menganggap bahwa ajakan dari raja Gowa ini hanyalah salah satu siasat untuk melebarkan pengaruh dan kekuasaan dari kerajaan Gowa. Sebenarnya bukan hanya kerajaan Bone saja yang berpendapat demikian, karena pada umumnya kerajaan-kerajaan besar  yang  ada di Sulawesi Selatan juga berfikiran sama.

Setelah kerajaan Sidenreng, kerajaan Soppeng dan kerajaan Wajo menerima agama Islam, secara diam-diam raja Bone X We Tenrituppu diam-diam berangkat ke Sidenreng untuk menemui adattuang sidenreng La Patiroi yang telah memeluk Islam. Namun ternyata takdir berkata lain, sesaat setelah memeluk Islam sang raja kemudian menghembuskan nafas terakhir setelah menderita sakit. Untuk itu beliau mendapat gelar anumerta “matinroe ri Sidenreng”

Tahun 1611 raja Bone X digantikan oleh La Tenriruwa sebagai raja Bone XI. Pergantian raja ini sampai ke telinga raja Gowa, Sultan Alauddin. Sang raja Gowa bersama pasukannya kemudian bergerak menuju Bone untuk bertemu dengan raja yang baru. Maksud utama dari kedatangan Sultan Alauddin adalah untuk mengajak sang raja baru memeluk agama Islam. Secara pribadi ajakan ini sebenarnya diterima raja Bone yang baru, sayangnya para Ade’ Pitu masih menentang karena kuatir akan rencana kerajaan Gowa untuk menjajah kerajaan Bone.

Selain itu mereka juga masih segan meninggalkan kebiasaan lama seperti makan babi, minum tuak, sabung ayam, beristri banyak dan lain-lain yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Namun itu hanya soal waktu karena akhirnya Islam dapat diterima oleh kerajaan Bone. Ajaran Islam bahkan memberi warna yang baru dalam pranata sosial orang Bone. Mereka bisa menerima Islam dengan baik karena menurut mereka ajaran Islam tidak mengubah nilai-nail, kaidah kemasyarakatan dan budaya yang telah ada sebelumnya.
Read More
admin

Sejarah singkat Suku Bugis (BONE)

suku bugis


Suku Bugis adalah salah satu suku yang mendiami wilayah Sulawesi dan kabupaten Bone sering dianggap sebagai pusat dari peradaban Suku Bugis. artikel ini adalah artikel berisi tentang budaya dan tata cara perkawinan menurut adat Bone.

Kabupaten Bone terletak sekitar 174 km sebelah timur kota Makassar dengan luas wilayah 4.559 km2. Di sebelah utara kabupaten ini berbatasan dengan kabupaten Wajo, sebelah selatan dengan Sinjai, timur denga teluk Bone dan barat dengan kabupaten Maros.

Menurut sejarah yang ada, kabupaten Bone  berawal dari masa kejayaan Kerajaan Bone yang dulu sangat terkenal di nusantara. Bersama kerajaan dengan Gowa-Tallo, kerajaan Bone turut mewarnai sejarah panjang nusantara kala itu. Selain Bone, ada lagi kerajaan  yang lain seperti kerajaan Soppeng, kerajaan Wajo dan juga Siang yang juga termasuk dalam etnis bugis.

Kejayaan kerajaan Bone mencapai puncaknya pada abad ke 17 pada masa pemerintahan Raja Bone XV La Tenri Tatta Daeng Serang Petta Malampe’e Gemme’na. Di dalam naskah lontara disebutkan sebagai berikut: riwettu puatta Malampe’e Gemme’na paoppang palengngengi tana Bone, Bone wettuero kutosaba keteng, tepu seppulo lima yang berarti: pada saat Bone dipimpin oleh La Tenri Tatta Daeng Serang Petta Malampe’e Gemme’na, maka Bone pada saat itu seumpama bulan, sempurna bentuknya.

Pada tahun 1905 Kerajaan Bone jatuh ke tangan Belanda dan terbentuk pemerintahan sendiri (Zelf bestur) di bawah pengawasan Belanda. Selanjutnya pada masa pemerintahan Raja Bone XXXIII La Pabbenteng Petta Lawa Sultan Muh. Idris Matinroe Ri Matuju sistem kerajaan diubah mengikuti sistem pemerintahan Republik Indonesia.
Read More

Sabtu, 17 Desember 2016

admin

Mengenal Lebih Dalam Pong tiku Pahlawan Nasional Dari Toraja



Mengenal Lebih Dalam Pong tiku Pahlawan Nasional Dari Toraja - Pong Tiku (atau Pontiku dan Pongtiku; 1846 – 10 Juli 1907), dikenal dengan nama Ne' Baso, adalah pemimpin dan gerilyawan Toraja yang beroperasi di Sulawesi bagian selatan, sekarang bagian dari Indonesia.
Tiku adalah putra penguasa Pangala'. Setelah Tiku menduduki kerajaan Baruppu', ia menjadi raja, lalu menguasai Pangala' setelah ayahnya meninggal dunia. Lewat perdagangan kopi dan persekutuan dengan Suku Bugis di dataran rendah, Tiku mendapatkan kekayaan, tanah, dan kekuasaan yang besar. Semasa Perang Kopi (1889–1890), kota Tondon diserang oleh penguasa lain, namun direbut kembali pada hari yang sama. Ketika pasukan Belanda menyerbu Sulawesi pada awal 1900-an, Tiku dan pasukannya melancarkan serangan dari benteng. Ia ditangkap pada bulan Oktober 1906. Bulan Januari 1907, ia kabur dan menjadi buronan sampai Juni tahun itu. Ia dieksekusi mati beberapa hari setelah tertangkap.
Tiku merupakan pemimpin pemberontakan terlama di Sulawesi. Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz menganggap Tiku sebagai ancaman bagi kestabilan pemerintahan Belanda di kawasan itu. Van Heutsz mengutus Gubernur Sulawesi untuk memimpin penangkapannya. Sejak kematiannya, Tiku menjadi simbol pemberontakan Toraja. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2002.
oraja Selatan dan Toraja Barat menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito sedang Toraja Utara mitra dagangnya adalah kerajaan Bone dan Luwu. Pimpinan orang Bugis dan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito adalah Petta Manyoro Lolo (Panglima Angkatan Perang Kerajaan Sidenreng) yang kemudian diketahui bernama Petta Serang, anak dari Raja Sidenreng, sedang pimpinan orang Bugis dari Kerajaan Bone dan Luwu adalah Petta Punggawa (Panglima tertinggi Angkatan Perang Bone, yang juga adalah Putra mahkota dengan nama Andi Baso' Abdul Hamid)
Melalui hubungan dagang antara orang Bugis dan orang Toraja tersebut pemimpin-pemimpin Toraja dapat mengetahui bahwa akan pecah perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak mau lagi mengakui Perjanjian Bungaya yang mengatur hubungan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang sangat merugikan.
Untuk mengantisipasi perang yang akan pecah dalam waktu tidak lama penguasa-penguasa Toraja mengadakan musyawarah di Tongkonan Buntu Pune Kesu' (Kediaman Pongmaramba') dan mencapai kesepakatan antara lain :
Menggalang persatuan antar penguasa dengan menghilangkan semua benih-benih perpecahan dan mengangkat Pongtiku Panglima Perang sedang Pongmaramba' dan penguasa-penguasa adat lainnya sebagai Panglima Pasukan Penghancur. Kesepakatan mereka didasari motto : "Misa' Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate".
Selesai musyawarah, Pongtiku kembali ke daerahnya untuk mempersiapkan dan menyiagakan benteng-bentengnya sebanyak 9 (Sembilan) buah menghadapi perang.Pada bulan Maret 1906, pasukan Angkatan Perang Belanda di bawah Pimpinan Kapten Killian dengan tujuan melucuti  dan mengumpulkan senjata api dari semua penguasa Toraja. Komandan pasukan Belanda memerintahkan Pongtiku datang menghadap dan menyerahkan semua senjata yang dimilikinya. Pongtiku menolak, malah ia menyiagakan semua benteng-bentengnya menghadapi perang.
Perang perlawanan Pongtiku dalam daerahnya sendiri berlangsung selama kira-kira 6 bulan (Mei s/d Oktober 1906) dengan 6 kali pertempuran dan 1 kali pengepungan selama kira-kira 4 bulan (Juli s/d Oktober 1906). Pertempuran tanggal 1 Juni 1906 untuk mempetahankan Benteng Buntu Asu dari serangan Angkatan Perang Belanda di bawah Komando Kapten De Last yang dilakukan dalam 3 gelombang semuanya kandas di muka Benteng dengan menelan banyak korban, Angkatan Perang Belanda dipukul mundur dan dihalau kembali ke Rantepao.
Pongtiku adalah penantang utama datangnya penjajah Belanda di Tana Toraja dan Toraja Utara dan dengan gigih dan gagah perkasa dengan segala kemampuan yang ada padanya mengobarkan perang lebih setahun lamanya, tepatnya dari bulan Mei 1906 s/d Juli 1907.  Ia bertahan dan menyerang musuhnya dari benteng-benteng yang jumlahnya 9 buah yang telah dipersipakan sejak dini. Perang Pongtiku melawan Belanda bukanlah tindakan spontanitas akan tetapi adalah perang yang direncanakan dan dipersiapkan dengan matang yangn merupakan bagian integral dari perang perlawanan Raja-Raja di Sulawesi Selatan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda disebut sebagai Perang Bone III. Demikian hebatnya pertahanan dan perlawanan Angkatan Perang Pongtiku terhadap gempuran Angkatan Perang Belanda, mengharuskan Letjen Swart yang dijuluki oleh Belanda sebagai Pasifikator Van Aceh (Pengaman Aceh) mengambil Komando pertempuran melawan Angkatan Perang Pongtiku yang bertahan tak terkalahkan dalam Benteng Batu di Baruppu'.
Belanda dengan menggunakan taktik seperti taktik yang digunakan terhadap Pangeran Diponegoro, Pongtiku menerima Case Fire, untuk mengadakan perundingan perdamaian dengan Belanda. Kesempatan ini digunakan oleh Belanda untuk membatasi gerak Pongtiku, tetapi Pongtiku menggunakan pula kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan Upacara Pemakaman kedua orang tuanya yang wafat dalam Benteng menurut adat Toraja. Sehari sebelum selesai upacara pemakaman kedua orang tuanya, Pongtiku dengan sejumlah pasukan kembali ke medan juang bergabung dengan teman-teman seperjuangannya di Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua' Saruran dan Benteng Alla' dalam Wilayah Enrekang.
Setelah Benteng Ambeso dan Benteng Alla' jatuh ke tangan Belanda pada Bulan Januari 1907 Pongtiku tidak tertawan, ia berhasil lolos bersama pasukannya kembali ke wilayah kekuasaannya. Dengan petunjuk mata-mata Belanda ia tertangkap lalu di bawa ke Rantepao. Tanggal 10 Juli 1907, ia dieksekusi dan gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di pinggir Sungai Sa'dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki' Rantepao.
Meneliti sejarah perjuangan bangsa melawan Pemerintah Hindia Belanda dapatlah diketahui bahwa Pongtiku adalah penantang terakhir yang mengobarkan perang klasik terakhir tahun 1906-1907 di Wilayah Sulawesi Selatan sesuai sumpah yang diucapkannya "Iatu Tolino Pissanri Didadian sia Pissanri Mate Iamoto Randuk Domai Tampak Beluakku Sae Rokko Pala' Lette'ku Nokana' Lanaparenta Tumata Mabusa" (Manusia hanya sekali dilahirkan dan mati, dari ujung rambut sampai telapak kakiku saya tidak akan rela diperintah oleh Belanda)
Pengorbanan tidak sia-sia karena setahun setelah Pongtiku gugur tahun 1907. Pada tahun 1908 bangkitlah perlawanan modern yang dimulai dengan gerakan Budi Utomo atau Kebangkitan Nasional yang disusul dengan perlawanan-perlawanan dari pahlawan dan pejuang-pejuang bangsa yang mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Patung pongtiku yang terdapat diratepao, yang menggambarkan penghargan masyarakat toraja kepada pongtiku



Read More

Jumat, 16 Desember 2016

admin

Identitas Etnis Toraja

potret suku toraja pada jaman dulu
Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan  oleh Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. 
Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi. "Toraja" (dari bahasa pesisir To, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi) pertama kalinya digunakan sebagai sebutan penduduk  yang  ada di kawasan dataran rendah untuk penduduk kawasan dataran tinggi. Akibatnya, pada awalnya "Toraja" lebih banyak memiliki hubungan perdagangan dengan orang luar-seperti suku Bugis dan suku Makassar, yang menghuni sebagian besar kawasan dataran rendah di Sulawesi daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. 
Kehadiran misionaris Belanda di kawasan dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa'dan Toraja, dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak saat itu,  sulawesi-Selatan memiliki empat kelompok etnis utama yaitu suku Bugis (kaum mayoritas, meliputi pembuat kapal dan pelaut), suku Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar (pedagang dan nelayan), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).
Read More

Rabu, 14 Desember 2016

admin

Sejarah tanah toraja




Teluk Tonkin, terletak diantara daerah Vietnam utara dan daerah Cina selatan, dipercayai sebagai tempat asalnya suku Toraja. Telah terjadi akulturasi yang panjang antara ras Melayu di Sulawesi dengan imigran dari Cina. Awalnya, imigran tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, yang akhirnya pindah ke dataran tinggi.

Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan Bugis. 

Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda. Selain menyebarkan agama, Belanda juga menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar wilayah Sa'dan dan kemudian disebut Tana Toraja. Tana Toraja pada awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut. Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.

Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena penghapusan jalur perdagangan yang menguntungkan bagi Toraja. Beberapa orang Toraja telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit masyarakat. Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja, dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen. Pada tahun 1950, hanya 10% orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.

Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi. Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak orang Toraja yang berpindah ke agama Kristen.

Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk Indonesia untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha. Kepercayaan asli Toraja (aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya menentang dekret tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Read More
admin

Asal-Usul Suku TORAJA




Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

Asal usul kata Toraja sampai saat ini masih menjadi perdebatan termasuk berbagi versi dan referensi masing-masing. Ada beberapa versi asal kata Toraja diantaranya sebagai berikut; dari istilah orang Bugis yang menyebut, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Namun beberapa sumber lain menyatakan bahwa orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya (dalam keseharian kita masih sering mendengar orang-orang tua di Toraja menyebut Toraja dengan kata tersebut), berasal dari 2 kata yakni To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar | bisa diartikan orang-orang besar atau bangsawan). Seiring waktu dan beberapa perubahan ejaan, kata Toraja masih mempertahankan ejaan lama dalam penulisannya. Adapun kata Tana dapat diartikan sebagai negeri. Hingga dikemudian hari wilayah pemukiman mayoritas suku Toraja lebih dikenal dengan sebutan Tana Toraja, yang akhirnya menjadi nama kabupaten dalam wilayah admistrasi Provinsi Sulawesi Selatan. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. 

Diatas adalah beberapa versi yang sering kita baca dari berbagai literatur. Memang jika menyangkut asal-usul nama Toraja masih perlu dikaji lebih mendalam sumber sejarahnya, dan hal tersebut tentunya bukanlah sesuatu yang mudah tanpa kerjasama dari berbagai pihak. 


Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.


Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.

Read More